Selasa, 01 Mei 2018

Review Heavenly Sounds King Interlude

Review Heavenly Sounds King Interlude



Selamat pagi teman - teman di mana pun kamu berada, setelah lama sekali blog yang ini tidak diupdate, saya akan mulai rutin menulis di sini cuma tema nya sudah bukan lagi soal persepedaan ya. Mulai sekitar 2013 saya mengenal ada komunitas baru yang cukup unik yaitu Audio Kere Hore, komunitas audio dengan filosofi menjalankan hobi tanpa membuat kantong bolong alias memenuhi hobi dengan membeli barang - barang (Audio) murah (dan biasanya merek yang belum terkenal) dengan kualitas yang sama dengan barang bermerek dengan harga yang bisa berkali - kali lipat harganya. Lebih jauh mengenai komunitas ini bisa di cek di link berikut: Audio Kere Hore

Dalam perjalanan saya di sana mencari dan menikmati earbud berkualitas tinggi dengan harga murah, saya ketemu sebuah merek lokal yang cukup menarik yaitu Heavenly Sounds dimulai dengan Cadenza versi 1, Top of the line dari Heavenly Sounds yang saya pakai secara eksklusif selama kurang lebih 2 tahun. Review ini mengenai King Interlude 30 ohms dengan jack Silver Rhodium yang sepertinya masih belum resmi release. Menurut info dari builder nya: om Joshua Wisnu ada 2 versi dari 30 ohms yaitu dengan jack Platinum Paladium yang sound signature nya mirip dengan versi 300 ohms nya dan jack Silver Rhodium yang frequency response untuk low dan mid nya lebih baik dan tidak fatigue alias nyaman digunakan dalam waktu yang lama.

Supaya tidak terlalu lama, langsung saja kita review, review ini dibuat dengan menggunakan lagu-lagu dari Spotify:
Perlengkapan untuk review ini pun sangat sederhana: Motorola Moto Z (XT1650), top of the line dari Motorola dengan menggunakan chipset Qualcomm Snapdragon 820. Earbud ini dikoneksi ke handset menggunakan converter 3.5" to usb C

Packing dan build quality


Heavenly Sounds King Interlude datang dengan packaging yang menarik, kotak plastik berbentuk seperti tempat bedak yang dibungkus dengan kotak plastik bening untuk memberikan kesan premium. Earbud nya sendiri dibungkus plastik klip dan di dalamnya disertakan leather clip, leather holder yang sepertinya bisa untuk gantungan kunci, extra foam earbud. Sebetulnya kalau dibandingkan dengan Cadenza V1 yang saya beli 2 tahun sebelumnya (akan saya review kemudian) terkesan penurunan, tapi kalau dilihat dari sisi efektifitas memang cukup efektif karena dengan packing airtight seperti itu bisa mengurangi kemungkinan terjadinya oksidasi pada kabel nya.


Kabel yang digunakan di earbud ini adalah kabel hybrid 4 braid dengan 26 strand dengan komposisi 60% tembaga dan 40% silver, terlihat warna nya yang putih dengan tutul silver yang menarik. 
Jack nya Oyaide Silver Rhodium versi straight. Seperti yang digunakan oleh Edimun v3 Rhodium
Housing nya warna hitam seperti yang biasa dilihat di banyak earbud alias housing sejuta umat, saya masih bertanya - tanya "Kenapa kok di earbud premium ini dipilih housing sejuta umat dan bukannya yang menarik seperti yang dipakai di Symphony atau Jewel?"  dan saya masih belum mendapatkan jawabannya dari builder nya. Dugaan saya ini ada hubungannya dengan tuning nya, mungkin ada sesuatu yang harus ditambahkan di dalam housing untuk mendapatkan warna suara demikian dan itu hanya mungkin dilakukan di housing ini. Kalau misal itu benar, tentunya itu rahasia dapur buildernya.

Sebelum memasuki sisi kualitas suara, perlu saya beritahukan kalau saya memiliki ekspektasi yang sangat tinggi ke earbud ini. Sebelum ini saya punya lineup Heavenly Sounds: Cadenza V1 yang menurut buildernya balanced to warm, dan Symphony yang menurut buildernya balanced to bright. Warna suara yang saya harapkan adalah natural flat balance. Karena saya ingin mendengarkan lagu sebagaimana lagu itu direkam di studio nya dengan pewarnaan sesedikit mungkin. Ekspektasi yang cukup tinggi dan ntah apa ada earbud yang bisa memenuhi ekspektasi saya.

Bahkan secara spesifik saya mau earbud yang vocal nya sweet, lebih maju dari instrumen, dan treble tidak perlu setinggi Symphony dan bass pun tidak perlu setinggi Cadenza v1 yang penting cukup dan natural.

Sektor Bass

Kekuatiran saya pada saat akan membeli earbud ini adalah sisi bass nya, saya mendapat info kalau versi yang Platinum Palladium memiliki kuantitas bass yang sedikit dan response nya juga kurang, apalagi dibilang warna nya mirip Sennheiser HD800 yang terkenal analytical dan cold.

Oke kita coba, bass nya deep tapi tidak boomy. Menurut builder nya, bass nya detail, cuma karena saya bukan bass head masih belum dapat detail nya seperti apa. Dari sisi kuantitas cukup, tidak berlebih seperti Cadenza v1 dan tidak sampai minus kayak Symphony.

Sektor Treble

High nya tinggi tapi tidak menyakitkan, dentingan cymbal nya cukup terasa, sebetulnya masih bisa lebih tinggi kalau dibandingkan dengan Symphony misalnya tapi yang saya cari bukan V-Shaped tapi justru natural flat balance. Dan memang sektor treble nya cring tapi terkesan natural.

Sektor Vocal

Di lagu-lagu Teresa Teng, suara nya terasa detail sekali sampai terdengar getaran suara nya, kalau didengarkan sambil menutup mata serasa Teresa Teng sendiri nyanyi di depan saya

Sektor Instrumen

Di sini juaranya, separasinya bagus, suara terkesan natural (accurate), bunyi cymbal nya persis kayak dengerin aslinya. Dan ada suara - suara tambahan yang saya belum pernah dengar sebelumnya sekalipun lagu nya sama persis. Detail sangat tinggi (analytical). Kekurangannya muncul di lagu-lagu yang memakai gitar listrik, ada terkesan lambat. Hal ini dibenarkan oleh builder nya, untuk memberikan warna suara seolah pakai tube amplifier.

Sektor Soundstage

Luas sekali, terlalu luas malahan. Semua penyanyi seperti menyanyi di padang rumput terbuka, luas dan tinggi. Kalau dipakai buat nonton (The Krypton episode 5, adegan Zeg El terdampar di padang salju) kita benar-benar serasa ada di dalam stage nya, di mana ada suara angin, di mana ada suara Zeg berbicara benar-benar 3D

Sensitivitas

Kalau dibandingkan dengan earbud lain, earbud ini sangat sensitif. Volume cukup 16 di HP Pavilion x360 dan sekitar 50 di Moto Z. Untuk mendapatkan kekerasan yang sama, di Symphony perlu minimal 75 di Moto Z dan 24 di laptop. Beda sedikit dengan Cadenza v1 yang sekitar 55 di Moto Z dan 20 di laptop.

Kesimpulan

Earbud ini sesuai harapan, warna suaranya natural flat balance, flat datar dengan sound stage yang luas dan instrumental yang detail. Dari sisi harga, harga retailnya Rp 1.250.000, memang paling tinggi kalau dibandingkan dengan earbud lokal lainnya tapi masih jauh di bawah earbud luar seperti Rose Mojito. Tapi kalau dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan masih tergolong murah karena bisa diadu dengan M60X.

Earbud ini pilihan terbaik untuk genre pop dan instrumental apalagi untuk vocal head ataupun mid head, tapi sangat tidak disarankan untuk bass head ataupun treble head karena kuantitas bass nya yang kurang dan treble masih bisa lebih tinggi lagi.

Earbud ini pun kurang cocok untuk dijadikan earbud 1 1 nya, karena ada rasa capek yang muncul setelah digunakan sekitar 60-90 menit, tapi kalau kamu orang sibuk seperti saya yang hanya punya waktu sebanyak itu setiap harinya.

Demikian review dari saya, kalau ada pertanyaan ataupun ada lagu yang disarankan untuk memperbaiki review nya bisa langsung komentar di kolom komentar.

Senin, 23 September 2013

Review Pias Scarab

Review Pias Scarab. Pias Scarab sebenarnya sebuah sepeda yang tidak tergolong ke jenis tertentu, desain mula mulanya memang untuk sepeda cyclo cross tapi dengan berbagai fleksibilitas yang ditanamkan di dalamnya, sepeda ini memenuhi syarat sebagai 1 sepeda bisa semua . Bisa dibuat jadi sepeda kota dengan mustache bar, keranjang depan. Bisa jadi sepeda balap (seperti yang saya lakukan), bisa jadi sepeda touring, bisa jadi fixed gear, bisa jadi sepeda cyclo cross, bisa jadi single speed, bisa jadi MTB. Yang tidak bisa dilakukan pada sepeda ini hanya dipasang suspensi dan rem selain disc brake.

Pada gambar disamping, seperti yang saya tulis di atas. Pias Scarab saya jadikan sepeda balap all weather. Sepeda ini dibuat dari bahan Chromoly 4130, ride quality nya empuk dan nyaman tapi tetap keras di bagian bottom bracket. Saya belum pernah coba Roubaix, tapi menurut saya sepeda ini bisa diadu tingkat kenyamanannya dengan Roubaix.

Pada perakitan kali ini saya pergunakan Shimano Sora 2013, murah, bagus, dan karena enak tidaknya sebuah gorupset bergantung pada mekanik yang nyetel saya pilih Giant Roxy / Sinar Bangka untuk penyetelan groupset nya. Dan hasilnya luar biasa, mantap dan presisi (selalu pilih mekanik yang tua, setelannya top abis). Seperti Shimano Sora 3400 saya dulu, setelah seminggu ada pergeseran B-tension, shifting jadi loncat loncat, tapi mudah, cukup setel saja B-tension di RD sekitar 1 putaran berlawanan arah jarum jam dan shifting kembali lancar.

Untuk disc brake saya pilih Tektro Lyra, karena murah cuma 500 ribu rupiah di Sumvelo dan termasuk disc brake road bike. Awas, jangan asal pilih disc brake karena ada perbedaan tarikan kabel rem antara sepeda balap dan MTB. Disc brake road sulit didapat di Indonesia ini dan kebetulan bmtbonline.com pun kehabisan stok (biasa selalu ada Hayes di sana tapi kali ini saya kehabisan dan mereka belum tahu kapan restock). Di pemasangannya pun harus hati hati, jangan tertukar antara depan dan belakang, ada perbedaan dudukan adapter IS (International Standard) to PM (Post Mount), saya tertukar pas pemasangan sehingga rem belakang nyangkut dan rem depan nggak optimal. Setelah terpasang, feel nya sama dengan caliper brake hanya saja tahan cuaca, sekarang saya lebih PD ngerem walau jalanan basah atau diguyur hujan.

Untuk wheelset saya pilih hub Strummer Pro, frame Pias Scarab ini mengikuti standard sepeda MTB untuk spacing hub nya (135 mm, kalo road cuma 130 mm), memang untuk disc brake, hub yg tersedia di pasaran hub MTB. Strummer Pro ini bunyinya nyaring kayak jangkrik kalau pas coasting, putarannya mulus. Untuk rims nya saya pilih Araya 700 DS yang memang untuk disc brake dan cocok buat cyclo cross. Ban saya pilih Schwalbe Marathon Racer yang katanya low rolling resistance dan reflective jadi lebih aman buat nyebrang jalan di pagi hari ataupun buat night ride. Awalnya saya mau pakai Maxxis Raze tapi karena stok sedang minim, saya pilih Schwalbe Marathon racer saja. Next time saya akan coba Maxxis Raze supaya bisa ikut main lumpur. Ban dalam pakai CST, karena murah, tapi dipakainya pun bagus. Saya sukses merusak 1 ban dalam karena dah lama nggak pasang ban dalam. Dalam pemakaiannya pun enak dan nyaman.

Saya bahas kelebihan frame nya dari sisi fiturnya ya:
- Chromoly 4130 membuat frame ini nyaman dikendarai, jauh lebih nyaman dari alumunium dan harganya jauh di bawah carbon. Bagus untuk yang mencari nyaman tapi low budget, kekurangan dari chromoly adalah harus lebih apik dalam merawat, selalu lap sampai kering setelah terguyur hujan.
- Adjustable rear drop out, ini fitur yang membuat frame ini fleksibel, bisa jadi single speed, bisa buat fixed gear. Rear drop out dan dudukan disc brake nya menyatu sehingga tidak ada masalah dalam memaju mundurkan, sayangnya dudukan fender nya masih ada di frame, efeknya kalau pakai fender harus dalam kondisi maju, kalau kondisi mundur full, ban bisa kena ke fender. Nah maju mundur ini berarti wheelbase bisa diadjust, yang mana untuk touring perlu wheelbase panjang untuk kestabilan tapi malah jadi gak bisa pakai fender. Pada saat ini masih saya setel mode cyclo cross di mana wheel base terpendek.
- Banyak lubang untuk pasang fender dan rack, baik di frame maupun di fork. Bagus buat touring, tapi ada hal yang perlu dipikirkan kembali oleh sang desainer yaitu kalau pakai disc brake, tidak semua lubang bisa dipakai karena terhalang oleh disc brake. Bahkan fender saya akhirnya saya akalin dengan menekuk nya. Mungkin kalau pakai fender yang mahal dan support disc brake beda ceritanya.

Singkat cerita saya puas memakai frame ini, ride quality nya meningkat jauh, saya biasa sprint tidak bisa lama kalau main di daerah Puri, sekarang bisa lebih lama karena nyaman. jalanan Puri yang tidak serata SCBD pun terasa nyaman, bahkan con block pun gak masalah. Sepeda ini cocok sekali buat mereka yang tinggal di kompleks ber con block seperti Pantai Indah Kapuk

Rabu, 08 Agustus 2012

Perlukah sepeda ringan ?

perlukah sepeda ringan
Perlukah sepeda ringan? Sejauh saya mengenal sepeda, semakin ringan sepeda, semakin ringan pula isi dompet anda setelah menebusnya. Kalau ditanya ke kebanyakan orang, jawabannya adalah perlu. Sebenernya perlu nggak sih ?

Sebetulnya balik lagi ke anda lagi, apa yang dicari ? sebrapa tinggi performance yang diinginkan ?

Supaya bisa njawab pertanyaan itu mari kita periksa fakta faktanya:
- Pada saat gowes, yang dibawa itu total berat sepeda dan orangnya
- Gowes itu sebetulnya melawan angin

Simplenya, coba dirasakan waktu gowes, gowes itu kita mbawa seluruh beban melawan angin. Artinya? tenaga yang kita keluarkan itu untuk melawan tenaga dari angin (semakin kencang anginnya semakin berat, kalau angin dari belakang ya kita tambah cepat, kalau angin dari depan ya selamat berjuang). Itu juga berarti semakin berat beban yang dibawa, semakin lambat jalannya. Berarti efek? iya donk, tapi sebrapa efek?

Contohnya berat saya sendiri 78 kg, sepeda saya 10 kg. Total berat 88 kg. Berat sepeda saya menyumbang 1/9 dari keseluruhan berat. Kalau saya beli Specialized Tarmac SL4 yang beratnya 7 kg, saya menurunkan total berat menjadi 85 kg. Berat badan ideal saya 65 kg, dengan kata lain saya kelebihan 13 kg.  Mari kita cek efeknya via http://bikecalculator.com/.

sepeda berat
Pada gambar di atas, saya masukkan berat saya dan berat sepeda saya apa adanya, bisa dilihat dengan power 200 watt (rata rata) saya bisa mencapai kecepatan 31.52 km/h.

sepeda idaman
Lalu saya coba kalau saya memakai berat sepeda idaman saya, ternyata cuma nambah 0.08 jadi 31.60 km/h.

berat badan ideal
Lalu terakhir kalau saya mencapai berat ideal saya, naik dikit jadi 31.87 km/h

Dari situ bisa dilihat kalau yang dihitung berat total berarti nurunin 3 kg itu tidak efek banyak, kalau gowes pengen kenceng ya powernya ditingkatin. Kalau nggak balapan ? ngapain sepeda enteng - enteng ? kecuali kl memang sedang kelebihan uang atau gak tahu THR nya mau buat apa.

Terima kasih sudah membaca.
Cek tips memilih sepeda untuk memilih sepeda dengan baik

Senin, 06 Agustus 2012

Memasang Sepeda Baru | New Bicycle Assembly



Setelah lama memilih sepeda, hal yang menyenangkan itu waktu sepeda diantar ke rumah. Kalau kita beli langsung di toko biasa sudah dirakitkan/dipasangkan tapi kalau kita beli sepeda itu online, biasa akan datang dalam bentuk dus seperti di atas. Paling mudah memang cukup bawa ke toko sepeda terdekat. Tapi kalau bisa melakukannya sendiri tentu lebih asyik. Pada artikel ini akan saya bahas seandainya kita memilih untuk memasang sendiri. Berikut list perlengkapan yang diperlukan untuk memasang sepeda sendiri:
- Kunci Allen (lupa ukurannya, siapkan saja 1 set)
- Obeng +/-
- Kunci cones, biasa dijual sepasang berukuran 13,14,15,16 untuk memasang sepeda
- Pelumas water proof untuk melumasi bagian dimana logam ketemu logam (stem, seat post)



Berikut penampakannyta setelah dus dibuka, tidak terlalu menyeramkan bukan? Biasanya di dalam dus, mayoritas sudah terpasang rapi. Bagian yang masih terlepas yaitu: dropbar/handlebar, ban depan, dan seatpost. 



Kita mulai dengan mengeluarkan semua part dan memotong semua cable ties/zip ties yang terdapat di dalamnya. Hati - hati jangan sampai membuat cat terkelupas oleh gunting yang dipakai, dan jangan membuang dus ataupun plastik - plastik yang terdapat padanya supaya kalau kita mau pack sepedanya kembali (misal mau sepedaan di Kuala Lumpur ataupun di negara lainnya) tinggal dipack. Perhatikan pada sekitar roda terdapat plastik di as nya, waktu saya pertama kali melepas plastik itu secara tidak sengaja merusak plastiknya sehingga tidak bisa dipakai kembali, plastik ini sebetulnya untuk menahan supaya roda tidak goncang dan mengenai frame.



Lalu kita mulai memasang roda depannya, biasanya as quick release tidak menempel pada hub depan, memasangnya juga nggak sulit cukup dibuka dan dimasukkan ke ban depan. Setelah quick release ini dipasang, kita pasang ke fork depan. Dikencangkan dan dikunci, pastikan kunci menghadap atas dan bukan menghadap depan sehingga berbentuk menyerupai tanduk, supaya tidak menyebabkan kecelakaan.
Berikutnya drop bar dan handle bar dipasang, cukup mudah kok tinggal lepas bagian stem dengan menggunakan allen wrench lalu dipasang kembali, jangan lupa beri sedikit pelumas di bagian di mana logam dan logam bertemu, tujuannya untuk mengurangi gesekan, memperpanjang umur frame, mengurangi resiko karat.


Dan terakhir, pasang seat post, pasang semua kabel dan setel RD dan FD nya (kalau sepeda polygon semua kabel sudah terpasang). Untuk penyetelan FD dan RD bisa diikuti di video berikut:



Setel dulu RD sebelum mulai adjust FD nya, karena setelan FD sangat bergantung pada setelan RD.



Dan kemudian setel FD nya. Jangan lupa ada barrel adjuster untuk menambah atau mengurangi tegangan. Saya menghabiskan waktu sangat lama untuk setel FD dan RD pertama kali, hanya karena saya nggak tahu ada barrel adjuster ini. Ada kalanya setelan cukup untuk gigi kecil tapi kurang untuk gigi besar, dan sebaliknya. Ternyata hal ini bisa dengan mudah dibantu dengan barrel adjuster. Barrel adjuster ini lokasinya di bagian down tube untuk sepeda balap dan di dekat shifter kalau di sepeda MTB.

Mudah bukan? dan memasang sendiri menambah keasyikan dari pengalaman memiliki sepeda baru.

Terima kasih sudah membaca kalau ada yang mau ditanyakan bisa lewat comment di bawah.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Review Specialized Allez Sport Double 2010


Sepeda ini saya beli di awal November 2009, memang sudah lazim bagi para produsen sepeda untuk mengeluarkan produk mereka lebih awal dari tahun keluarnya. Ini sepeda saya kedua yang saya beli dengan uang hasil kerja sendiri, yang sebelumnya Poligon Galleon, sebuah sepeda hibrid keluaran Polygon. Dulu sebelum saya beli Polygon Galleon itu saya sempat bimbang, antara Galleon dan Roadster, karena harganya sama. Polygon Roadster itu sepeda balap keluaran Polygon. Sebagai pemula saya sangat tertarik dengan sepeda balap terutama karena kedua om saya dulu pesepeda balap amatir di daerah Bojonegoro. Tapi waktu memilih sepeda saya ragu, terutama karena dengan harga yang sama kok kalo beli sepeda balap dapat groupset kelas bawah, sementara kalau beli MTB dapat groupset yang dah lumayan (Polygon Galleon dilengkapi dengan groupset Shimano Deore 9sp). Baru setelah beli saya baru tahu kalau bedanya lumayan banyak antara sepeda balap dan sepeda MTB.

Sepeda balap memiliki sprocket dengan range sekitar 11-25T sedangkan sprocket MTB memiliki range 11-32T, kelebihan sprocket dengan rentang yang kecil atau istilahnya close ratio membuat perpindahan gigi lebih mulus, apalagi untuk balapan dimana dengan rasio gigi lebih kecil akan sangat membantu untuk menjaga cadence. Crank dari sepeda balap biasanya double, triple atau compact, sedangkan untuk MTB lazimnya tripple. Ratio gigi dari crank sepeda balap pun jauh, yaitu 53-39 untuk double, 52-39-30 atau 50-39-30 untuk triple dan 50-34 untuk compact, lebih lanjut mengenai pemilihan crank akan saya bahas di post lainnya. Untuk crank MTB, ratio umumnya 44-34-24 untuk Shimano dan 48-38-28 untuk SunTour. Ratio crank sepeda balap lebih tinggi karena dipakai untuk balapan di jalan raya di mana jalanan mulus dan kebanyakan flat. Sementara untuk MTB ratio lebih rendah karena kebanyakan dipakai di medan terjal dan cenderung nanjak.

Spesifikasi dari Specialized Allez Sport Double 2010 ini bisa dilihat di link berikut ini. Seperti bisa kita lihat bahwa sepeda ini dilengkapi dengan groupset campuran Shimano Sora - Tiagra. Kalau kita baca review Shimano Sora, groupset ini lemah di Rear Derailleur di mana karena terbuat dari plastik (mungkin yang seri 3300) sering patah. Mungkin itu kenapa kok seri ini diberi Rear Derailleur Tiagra sementara brifter dan Front Derailleur nya Sora. Crank dikasih Truvatif Isoflow yang mana masih ikut standard squared tapered dan belum HollowTech2. Pada rantainya diberi Chain Connector merk KMC yang mana sangat membantu untuk maintenance rantai.

Saya menyayangkan kok diberi brifter Shimano Sora dan bukannya Tiagra, Brifter Shimano Sora ini, seperti bisa dilihat di gambar disamping, menggunakan thumb shifter. Thumb shifter ini kalau yang bagian kiri, agak keras di awal, perlu waktu cukup lama sampai enak digunakan. Bagian kanan yang mana untuk mengendalikan rear derailleur tidak sekeras yang kiri. Untuk kondisi tangan di drop sih nggak ada masalah untuk shifting nya. Masalah muncul waktu tangan ada di bagian drop dari dropbar. Diperlukan jempol yang panjang untuk menekan tuas thumb shifter nya. Masih bisa diakali dengan menggeser tangan, tapi dalam kondisi balapan hal ini cukup menyulitkan dan kehilangan 1 detik sangat sulit dicapai kembali.

Karet rem yang diberikan cuma tahan 1000 KM, dan karena saya alpa dalam menggantinya berakibat rim nya tergerus. Hub belakang yang diberikan pun kualitasnya kurang, setelah 1000 KM divonis oleh mekanik Sinar Bangka sebagai 'bodi hub goyang dan harus diganti', kondisi bodi hub goyang ini cukup mengganggu shifting. Ban luarnya juga cuma tahan 1000 KM dan saya ganti dengan Maxxis Detonator.

Bagian yang paling bersinar dari sepeda ini adalah bagian framenya. Enteng untuk ukuran alumunium, selain itu waktu digowes rasanya cepat sekali. Bahkan adik saya yang tidak ngerti sepeda pun bisa bilang kalau sepeda ini kencang. Kalau saya bandingkan dengan sepeda MTB saya yang saya dapat dari hadiah kompas sih jauuuh, sekitar 2-5 kmh untuk effort yang sama.

Pada akhirnya saya lakukan upgrade untuk mengganti part - part yang saya kurang sreg:
- Brifter: 105
- Crankset: Shimano Sora Compact 50-34
- Hub: Shimano 105
- Rims: H+SON SL45
- Sprocket dan rantai 105
- Ban Maxxis Detonator


Kesimpulan saya sepeda ini layak untuk dibeli, kalau ada pengetahuan lebih mengenai sepeda lebih baik beli framenya saja lalu pilih sendiri komponennya, atau kalau punya uang lebih, lebih baik ambil seri yang lebih tinggi seperti Allez Comp atau Allez Elite. Allez tahun produksi 2011 ke atas diberi geometri yang sama dengan Tarmac hanya saja bahannya alumunium.

Terima kasih sudah membaca.
Berikut cara saya memilih ukuran sepeda Specialized Allez ini.

Ukuran Sepeda

ukuran sepeda
Ukuran sepeda hanya 1, Itulah yang ada di pikiran saya sebelum saya mulai Bike To Work dan membeli sepeda saya yang pertama kali dengan uang sendiri. Ngobrol - ngobrol di milis B2W Robar, ternyata frame sepeda itu bagaikan baju, ada ukuran dan itu personal setiap orang. Ukuran ini kadang dinyatakan dengan XS, S, M, L, XL ada juga dengan angka. Penentuan SML dari frame pun ternyata tidak ada standard pastinya, S di Polygon bisa berarti M di Giant. Lalu kalau begitu bagaimana cara memilih ukuran yang pas?

Ada 2 cara buat milih, cara simple dan cara susah. Kita bahas cara yang simple dulu yah. Cara paling mudah itu datang ke toko sepedanya lalu minta saran ke yang jual, kalo yang jual pintar seperti di salah satu toko sepeda di Roxy, akan ditunjukan sepeda sepeda yang 'bisa pakai', berikutnya ya dicoba dinaiki,  Pastiin batang yang horizontal (liat gambar di atas, ada labelnya TT, istilah ilmiahnya Top Tube) tidak mentok di selangkangan, pastikan ada jarak sekitar 2 cm, hal ini untuk memudahkan kita berhenti mendadak. Bagian yang kita ukur ini istilahnya Standover Height. jaman dulu standover height menjadi ukuran paten untuk menentukan sepeda ini ini pas untuk kita atau tidak, tapi hal tersebut sudah bukan patokan umum lagi karena setiap sepeda memiliki geometrinya masing - masing dan unik. Lalu cek ketinggian sadelnya, tinggi sadel optimal itu sadel berada sedikit di atas pinggang. Kesannya memang terlalu tinggi karena kaki kita tidak menapak tangan ketika sedang naik sepeda tapi itu wajar, karena sadel yang terlalu rendah berakibat paha membesar dan tenaga gak optimal. Cek video di sebelah untuk cara naik sepeda dengan baik.

Kalau yang dicoba itu sepeda balap atau MTB dengan fork rigid, dengan posisi tangan ada di hood, dilihat as roda depan. Kalau as roda depan ada di depan handlebar berarti stem kurang panjang, kalau as roda depan ada di belakang handlebar berarti stem nya kepanjangan. Ukuran stem itu 8-12 cm, lebih panjang dari 12 cm sepeda kurang stabil, kurang dari 8 cm biasa dipakai di sepeda downhill. Kalau ternyata stem perlu lebih panjang dari 12 cm, berarti sepedanya kekecilan, perlu ganti ke 1 ukuran lebih besar. Kalau stem perlu dipendekin jauh, besar kemungkinan sepedanya kebesaran.

Ok itu kalo cara mudah, kenapa ada cara susah ? cara yang susah itu lebih presisi, beberapa orang lebih suka model hasil perhitungan eksak. Untuk perhitungan eksak bisa dilakukan di sini. Setelah dapat hasilnya biasanya bingung, dengan informasi yang didapat di situ gimana cara milih sepeda yg benar? Untuk pemula seperti kita, cuma perlu lihat ukuran Top Tube (cek gambar paling atas, ada label TT) dan ukuran Seat Tube (label ST), yang paling penting adalah panjang Top Tube. Pas tidaknya sepeda ditentukan dari Top Tube, pilih yang Top Tube nya mendekati dan standover height nya tidak melebihi standover height kita. Contoh: standover height maksimum saya 74 cm, top tube saya 53, Specialized Allez 2010 size S top tube nya 53 cm dan standover height nya 75 cm sedangkan size XS top tube nya 52 dan standover height nya 73 cm, sudah pasti saya memilih yang XS.

Lalu informasi lainnya untuk apa ? Seat tube angle ini biasa berada di rentang 72-76 derajat, semakin tinggi angkanya posisi semakin agresif, kalau dipakai jarak jauh (di atas 100 km) kurang efektif karena lebih capek, sepeda yang fokus ke kenyamanan ataupun untuk endurance biasanya 72 derajat, demikian pula sepeda balap classic ataupun cyclo cross. Head Tube angle itu menentukan stability, panjang sepeda itu penting untuk sepeda balap di mana panjang seharusnya adalah 100 cm, kalau lebih pendek dari 95 cm biasa kurang stabil dan kalau lebih panjang biasa susah nikung. Variabel lainnya yang menentukan kesulitan nikung itu fork rake yaitu jarak ujung fork sebenarnya dibandingkan jika fork itu lurus sempurna.

Kalau ada informasi yang kurang jelas terutama seputar ukuran sepeda silahkan ditanyakan, akan saya coba jawab semampu saya.

Terima kasih sudah membaca

Jumat, 03 Agustus 2012

Cyclo Cross | 1 Sepeda untuk semua keperluan

Mungkin kalo liat gambar di atas ada beberapa reaksi:
- "O sepeda balap bisa dipakai di lelumpuran toh"
- "Ya ampun, sepeda balap kok dipake di lumpur"

Cyclo Cross itu event yang dimulai di eropa, pada mulanya para pembalap bingung mau ngapain di musim salju, akhirnya mereka convert sepeda tua mereka, remnya dipakein cantilever, bannya digedein dan mainlah mereka di tengah salju dan lumpur. Tapi di sini saya akan cerita bukan soal event cyclo cross nya tapi soal sepedanya.

Kalo kita bicara 1 sepeda bisa semua tentunya ada banyak kriteria yang kita mau capai:
- Bisa melibas banyak lahan
- Bisa buat jalan - jalan santai
- Bisa buat balapan di jalan raya
- Bisa buat touring alias bisa buat bawa beban banyak
- Bisa buat commuting atau bike to work

Supaya bisa melibas banyak lahan, tentunya powernya ada di ban betul? kita perlu yang bannya bisa dipasang lebar, tapi juga bisa dipasang ban tipis buat di jalan raya. Sepeda cyclo cross dilengkapi dengan ban berukuran 700x32-38 bahkan kalau beli Surly Cross Check bisa ban yang lebih besar lagi. Dengan ban itu kita bisa XC ringan... kalau mau lebih gimana ? bisa! cari sepeda cyclo cross yang pake disc brake alias rem cakram! apa efeknya ? kalo pake rem cakram, tinggal sediain wheelset ukuran 26" dan langsung tempel. Kalau masih pake cantilever ada masalah dengan pengereman, karena diameter rodanya beda, gak bisa ngerem kalo gak dikasih adaptor.

Berikutnya bisa dipake commuting, yang diperluin apa saja sih? kalo demen pake messenger bag ataupun biasa bawa ransel sih semua sepeda bisa, kalo punggungnya dah mulai berasa kurang kuat tentunya perlu dipasangi rak belakang buat taruh tas (istilah kerennya pannier). Rack model seperti di gambar sebelah ini perlu ada dudukan di daerah dekat as roda, yang mana kebanyakan sepeda cyclo cross selalu dilengkapi dengan eyelet untuk fender dan rack. Rack tipe ini bisa sekalian dipake untuk touring karena mampu membawa beban hingga 40 kg. Ada juga tipe yang lebih simple yang dikaitkan di seatpost (batang saddle) kalo tipe ini gak enaknya bisa berubah posisi kalo pas sepeda kena lubang di jalan atau polisi tidur disamping cuma bisa bawa beban maks 5kg. Untuk commuting dengan jarak di atas 10 km, tangan bisa pegal kalo cuma ada 1 alternatif posisi (seperti kalo cuma pake MTB) untuk menambah alternatif posisi tangan paling baik pakai drop bar, sepeda cyclo cross selalu dilengkapi dengan drop bar.

Nah kalo dipakenya untuk touring, rack belakang saja kurang, perlu rack depan juga seperti gambar disamping, otomatis perlu mounting juga di fork depan di mana sepeda cyclo cross buatan eropa kebanyakan ada eyelet nya. Selain itu untuk touring paling baik pakai butterfly bar, namun bisa juga pakai drop bar. Gunanya ? sama kayak di atas, biar tangan ada banyak posisi. Selain itu disarankan juga pakai ban 26" jadi kl misal ada masalah dan berakibat rim/velg peyang masih bisa cari gantinya dengan mudah. Dan tentunya dengan ban 26" ada banyak jalan yang bisa dilibas, karena yang namanya touring nggak selalu di jalan besar dan kebanyakan tempat yang menarik dikunjungi selalu jalannya rusak karena belum tersentuh pembangunan.

Kalau buat balapan ? nah balapannya di mana dulu? kalau di jalan raya ya tinggal ganti aja bannya dengan 700x23, kalo balapannya di JPG alias MTB ya pake aja ban 26". Cuma kalo balapan di jalan raya ati2 kalo ngerem karena rem cakram lebih pakem dari standard u-brake yang dipake di sepeda balap umumnya.

Kalo buat jalan - jalan santai, nah yang namanya jalan - jalan santai tentu perlu kondisi badan relaks, posisi badan upright. Simple sih, yang digenggam itu bagian flat bar nya drop bar, nggak usah takut kejauhan dari rem karena sepeda cyclo cross dilengkapi dengan interupter brake. Soal shifting juga gak perlu pusing toh jalan - jalan santai tinggal pake aja shifter yang ada di drop bar dari hood, beres dah.

Segitu lengkap, kekurangannya apa? *grins*
Kuncinya di geometri, kalau untuk bener2 buat balapan posisinya kurang agresif, dan tentunya nggak mungkin dipake buat downhill, kalo mau dipake buat touring juga berarti materialnya harus cromoly yang mana kalah stiff dibanding alumunium ataupun carbon efeknya ? ada tenaga yang hilang. Otomatis sepeda juga lebih berat dibanding sepeda balap, sekali lagi ada tenaga yang terbuang. Dan juga nggak bisa dipake untuk bikin fixie kecuali pake Surly Cross Check.

Singkat cerita, kalau ada uang banyak, dan diperbolehkan istri untuk nyimpen sepeda banyak ya mending beli 1 sepeda untuk 1 keperluan. Dan perlu diliat baik2 tidak semua sepeda cyclo cross ngasih eyelet untuk fender, rack belakang dan rack depan. Yang saya tahu ngasih semua itu Specialized Tricross, Surly Cross Check, Masi CX Uno, dan 1 sepeda Genesis yang dipajang di Pancalen Cycles

Terima kasih sudah membaca