Sabtu, 04 Agustus 2012

Review Specialized Allez Sport Double 2010


Sepeda ini saya beli di awal November 2009, memang sudah lazim bagi para produsen sepeda untuk mengeluarkan produk mereka lebih awal dari tahun keluarnya. Ini sepeda saya kedua yang saya beli dengan uang hasil kerja sendiri, yang sebelumnya Poligon Galleon, sebuah sepeda hibrid keluaran Polygon. Dulu sebelum saya beli Polygon Galleon itu saya sempat bimbang, antara Galleon dan Roadster, karena harganya sama. Polygon Roadster itu sepeda balap keluaran Polygon. Sebagai pemula saya sangat tertarik dengan sepeda balap terutama karena kedua om saya dulu pesepeda balap amatir di daerah Bojonegoro. Tapi waktu memilih sepeda saya ragu, terutama karena dengan harga yang sama kok kalo beli sepeda balap dapat groupset kelas bawah, sementara kalau beli MTB dapat groupset yang dah lumayan (Polygon Galleon dilengkapi dengan groupset Shimano Deore 9sp). Baru setelah beli saya baru tahu kalau bedanya lumayan banyak antara sepeda balap dan sepeda MTB.

Sepeda balap memiliki sprocket dengan range sekitar 11-25T sedangkan sprocket MTB memiliki range 11-32T, kelebihan sprocket dengan rentang yang kecil atau istilahnya close ratio membuat perpindahan gigi lebih mulus, apalagi untuk balapan dimana dengan rasio gigi lebih kecil akan sangat membantu untuk menjaga cadence. Crank dari sepeda balap biasanya double, triple atau compact, sedangkan untuk MTB lazimnya tripple. Ratio gigi dari crank sepeda balap pun jauh, yaitu 53-39 untuk double, 52-39-30 atau 50-39-30 untuk triple dan 50-34 untuk compact, lebih lanjut mengenai pemilihan crank akan saya bahas di post lainnya. Untuk crank MTB, ratio umumnya 44-34-24 untuk Shimano dan 48-38-28 untuk SunTour. Ratio crank sepeda balap lebih tinggi karena dipakai untuk balapan di jalan raya di mana jalanan mulus dan kebanyakan flat. Sementara untuk MTB ratio lebih rendah karena kebanyakan dipakai di medan terjal dan cenderung nanjak.

Spesifikasi dari Specialized Allez Sport Double 2010 ini bisa dilihat di link berikut ini. Seperti bisa kita lihat bahwa sepeda ini dilengkapi dengan groupset campuran Shimano Sora - Tiagra. Kalau kita baca review Shimano Sora, groupset ini lemah di Rear Derailleur di mana karena terbuat dari plastik (mungkin yang seri 3300) sering patah. Mungkin itu kenapa kok seri ini diberi Rear Derailleur Tiagra sementara brifter dan Front Derailleur nya Sora. Crank dikasih Truvatif Isoflow yang mana masih ikut standard squared tapered dan belum HollowTech2. Pada rantainya diberi Chain Connector merk KMC yang mana sangat membantu untuk maintenance rantai.

Saya menyayangkan kok diberi brifter Shimano Sora dan bukannya Tiagra, Brifter Shimano Sora ini, seperti bisa dilihat di gambar disamping, menggunakan thumb shifter. Thumb shifter ini kalau yang bagian kiri, agak keras di awal, perlu waktu cukup lama sampai enak digunakan. Bagian kanan yang mana untuk mengendalikan rear derailleur tidak sekeras yang kiri. Untuk kondisi tangan di drop sih nggak ada masalah untuk shifting nya. Masalah muncul waktu tangan ada di bagian drop dari dropbar. Diperlukan jempol yang panjang untuk menekan tuas thumb shifter nya. Masih bisa diakali dengan menggeser tangan, tapi dalam kondisi balapan hal ini cukup menyulitkan dan kehilangan 1 detik sangat sulit dicapai kembali.

Karet rem yang diberikan cuma tahan 1000 KM, dan karena saya alpa dalam menggantinya berakibat rim nya tergerus. Hub belakang yang diberikan pun kualitasnya kurang, setelah 1000 KM divonis oleh mekanik Sinar Bangka sebagai 'bodi hub goyang dan harus diganti', kondisi bodi hub goyang ini cukup mengganggu shifting. Ban luarnya juga cuma tahan 1000 KM dan saya ganti dengan Maxxis Detonator.

Bagian yang paling bersinar dari sepeda ini adalah bagian framenya. Enteng untuk ukuran alumunium, selain itu waktu digowes rasanya cepat sekali. Bahkan adik saya yang tidak ngerti sepeda pun bisa bilang kalau sepeda ini kencang. Kalau saya bandingkan dengan sepeda MTB saya yang saya dapat dari hadiah kompas sih jauuuh, sekitar 2-5 kmh untuk effort yang sama.

Pada akhirnya saya lakukan upgrade untuk mengganti part - part yang saya kurang sreg:
- Brifter: 105
- Crankset: Shimano Sora Compact 50-34
- Hub: Shimano 105
- Rims: H+SON SL45
- Sprocket dan rantai 105
- Ban Maxxis Detonator


Kesimpulan saya sepeda ini layak untuk dibeli, kalau ada pengetahuan lebih mengenai sepeda lebih baik beli framenya saja lalu pilih sendiri komponennya, atau kalau punya uang lebih, lebih baik ambil seri yang lebih tinggi seperti Allez Comp atau Allez Elite. Allez tahun produksi 2011 ke atas diberi geometri yang sama dengan Tarmac hanya saja bahannya alumunium.

Terima kasih sudah membaca.
Berikut cara saya memilih ukuran sepeda Specialized Allez ini.

2 komentar:

Fitrah Muhammad mengatakan...

harganya berapa gan? ane liat di website-nya kok ga nemu harganya.

kalo road bike polygon yang cocok untuk newbie yang seri apa ya? trims.

Fitrah Muhammad mengatakan...

oh iya satu lagi bro. setelah browsing2 kesana-kemari ane kok tertarik dengan specialized ya. dimana ya toko yang jual specialized? thanks.